SMILE...^_^

Senin, 07 Maret 2011

** Untaian Hikmah Ibnu ’Athaillah **


AGAR HATI TAK TERALINGI

Jenis amal beragam karena kondisi spiritual yang Dia berikan juga beragam


KITA TIDAK bisa mengingkari kenyataan bahwa apa yang terungkap dalam kata, sikap dan perbuatan kita adalah cerminan dari keadaan hati kita. Ini berkaitan dengan asupan ruhani yang kita terima. Asupan itu berkaitan dengan keluasan dan kesempitan hati kita dalam membangun kedekatan denganNya. Ada saat dimana kita tiba-tiba sangat bijak dan ramah, ada saat kita bersikap sangat dingin, dan tak sedkit saat kita juga meledak-ledak. Untuk semua kondisi ini, bersikaplah tulus agar kita bisa melewatinya dengan mulus. Bersikaplah wajar agar kita tidak tercemar.

Amal adalah kerangka yang tegak, sementara ruhnya adalah rahasia ikhlas didalamnya.

IKHLAS ITU ibarat ”sinyal”. Tandanya bisa dilihat tetapi wujudnya tidak bisa diraba, apalagi dipegang. Amal kita bisa saja tetap hidup karena adanya baterai (niat), tetapi tidak menjamin terhubungnya kita dengan tujuan (Allah). Ikhlaslah yang menghadirkan kejernihan, keleluasaan, dan kebebasan diri kita dari rasa sempit dan tertekan. Kita menjadi lebih ”bebas” dan ”merdeka”. Sebab, kita hanya bergantung pada penilaianNya, bukan pada penilaian mahlukNya. Tugas kita dalam menjaga keikhlasan dalam setiap amal yang kita lakukan adalah dengan senantiasa meminta pertolonganNya, memelihara dan meluruskan niat. Benahi...Benahi...dan benahi selalu...

Tanamlah wujudmu pada tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam hasilnya tidak akan sempurna.

Mereka yang berbuat semata karena harus berbuat. Mereka yang bersuara semata karena harus bersuara. Mereka yang diam semata karena harus diam. Mereka yang terpelihara dari kesombongan.merekalah yang merendahkan diri untuk kebenaran, menyelamatkan diri untuk kebenaran, dan mudah menerima kebenaran dari oranglain. Merekalah yang senantiasa memamerkan keberadaanNya dan menyembunyikan keberadaan dirinya.

Sadarlah, bila kita masih lebih berharga daripada oranglain, kita kan menjadi terbiasa dengan kepalsuan dan kepura-puraan. Buah yang sempurna keluar dari bibit unggul yang tumbuh ditanah yang subur. Belajarlah rendah hati, engkau akan mudah berbesar hati.

Kita sangat membutuhkan saat untuk ”menarik diri” dari ingar bingar kehidupan. Menemukan suasana tenang untuk memperbarui diri. Memikirkan dengan sungguh-sungguh tindakan utk meluruskan, meneguhkan, dan menyeimbangkan setiap unsur kelemahan, kekurangan, aib, dan sifat buruk lainnya dalam diri. Ini adalah medan spiritual yang didalamnya kita dituntut untuk mampu memenangkan peperangan dengan diri sendiri. Menjadikan hati ”sepi” dari kesia-siaan dan membuat nafsu ”sendirian” dalam permainannya”. Setelah itu, barulah kita kembali meneruskan perjalanan hidup dengan kesadaran penuh. Sungguh, saat HENING, hatimu akan BENING. Mulailah....


Bagaimana kalbu akan bersinar sementara gambaran dunia melekat pada cerminnya?! Bagaimana kan pergi menuju Allah, sementara ia terbelenggu oleh syahwatnya?! Bagaimana ingin masuk kehadirat Allah, sementara ia belum membersihkan diri dari junub kelalaiannya?! Bagaimana berharap bisa memahami berbagai rahasia, sementara ia belum bertobat dari kekeliruannya?!

Ini medan kontemplasi. Pergulatan antara kesadaran (ruh) dan kecenderungan (nafsu). Hati tidak akan mungkin tenang bersamaNya bila kenyatannya nafsu masih lebih senang bersama mahlukNya. Tidak ada ibadah yang ”menyejukan” bila dunia masih tetap ”memabukkan”. Sebab, hati adalah tempat bertemunya ”cahaya” kebenaran dan ”api” kecenderungan. Hati akan redup, bahkan gelap bila kesadaran tersingkirkan. Hati bahkan bisa dipenuhi ilusi dan kelalaian. Lalu, kebenaran seperti apa yang akan kita peroleh?




Terangilah hati, sempatkan diri meniti, untuk melangkah lebih hati-hati.

Seluruh alam berupa kegelapan. Yang membuatnya terang adalah keterlihatan Allah padanya. Siapa yang melihat alam namun tidak menyaksikan Allah padanya, disisinya, sebelumnya atau sesudahnya, berati ia telah disilaukan oleh keberadaan sinar serta terhijab dari mentari makrifat oleh awan alam.

SANGAT MENGGELIKAN   orang yang menyimpulkan bahwa matahari tidak memancarkan sinarnya hanya sebab tertutup awan. Dia salah ”melihat” kedudukan antara keduanya. Begitulah bila hati kita tidak terang memandang. Semesta ciptanNya tetap saja tidak membuat kita sampai kepadaNya  Padahal, semestinya kita makin mengenalNya melalui ciptaanNya. Dan Dia memperkenalkan diriNya dengan terang pada setiap yang ada (wujud benda, peristiwa,kejadian) dialam semesta ini. Karenanya, sapalah Dia dan sambutlah semesta dengan hatimu. Hidupmu akan cemerlang bersamaNya. Subhanallah...

Diantara bukti kekuasaan Allah yang luar biasa adalah ketika Dia menghijabmu dariNya lewat sesuatu yang tidak bersamaNya.

Sekali lagi alam semesta ini hanyalah ”pantulan” cahayaNya. Bukan wujud tersendiri tanpaNya. Inilah keyakinan yang harus kita pegang dalam berhubungan denganNya. Menyangsikan keberadaanNya hanya sebab kita tidak bisa melihatNya adalah sebuah kebodohan yang tak termaafkan. Seharusnya kita mengalir bersamaNya dalam irama keseimbangan semesta. Terus meliputi diri denganNya, bergumul dengan ciptaanNya. Tidak ada kita tidak ada semua. Yang benar-benar ada hanyalah Dia. Bila kita sudah sampai pada kesadaran demikian, maka kita akan selalu merasa sedang menemuiNya, kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun.

Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Allah yang menampakan segala sesuatu?! Bagaiman mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak pada segala sesuatu?! Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak untuk segala sesuatu?! Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak sebelum keberadaan segala sesuatu?!Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu?! Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Dia Esa tanpa ada yang bersamaNya?! Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu?! Bagaimana mungkin Allah dipersepsikan terhijab oleh sesuatu padahal jika bukan karena Dia wujud segala sesuatu tidak akan ada. Sungguh aneh, bagaimana keberadaan (Wujud) bisa tampak dalam ketiadaan (adam)?! Atau, bagaimana sesuatu yang baru bisa bersanding dengan Yang Mahadahulu?!

JANGAN LAGI bertanya tentang keberadaanNya bila kita sudah menyadari ketiadaan kita. Lebur dalam kesadaran seperti ini sungguh nikmat. Kita menjadi tidak lagi mempersoalkan keberadaan kita. Karena, kita sadar bahwa kita hanya realitas yang terbatas. Kita tidak kekal dan juga tidak bebas. Kita menempati ruang dan waktu. Sementara, Dia tak terbatasi oleh pengertian apapun dalam ruang ataupun waktu.


Jadi sangat tidak pantas bila kita mencoba membandingkannya. Kesadaran ini kan membawa kita belajar lebih tulus berhubungan denganNya dan lebih wajar berinteraksi dengan mahlukNya. Sujudkan ”wujud”-mu pada Wujud-Nya. Jangan tabiri keberadaanNya oleh sikap tidak bersyukurmu. Terbukalah hijab hatimu......


Sumber : Al-Hikam
Untaian Hikmah Ibnu ’Athaillah
Penerbit : Zaman

* Jika dirasa bermanfaat dipersilahkan utk copas atau share langsung...Jazakumullah khairan katsiro wa barakallahu fiikum...^_^



1 komentar: