SMILE...^_^

Minggu, 25 September 2011

Puisi Kahlil Gibran Tentang Sahabat


SAHABAT




Sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa.

Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih.

Sahabat adalah naungan sejuk keteduhan hati dan Api unggun kehangatan jiwa, karena akan dihampiri kala hati gersang kelaparan dan dicari saat jiwa mendamba kedamaian

Ketika ia menyampaikan pendapat, kalbu tak kuasa menghadang dengan bisikan kata “tidak”,dan tak pernah khawatir untuk menyembunyikan kata “ya”

Bilamana dia terdiam tanpa kata hati senantiasa mencari rahasianya

Dalam persahabatan yang tanpa kata, segala fikiran, hasrat, dan keinginan terangkum bersama, menyimpan keutuhan dengan kegembiraan tiada terkirakan.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah ada duka, sebab yang paling kau kasihi dalam dirinya,mungkin akan nampak lebih cemerlang dari kejauhan.

Seperti gunung yang nampak lebih agung dari padang dan ngarai.

Lenyapkan maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.

Karena cinta berpamrih yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya,

bukanlah cinta, tetapi sebuah jaring yang ditebarkan ke udara hanya menangkap kekosongan semata

Persembahkan yang terindah bagi persahabatan.

Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.

Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktu

Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu

Sahabat kan mengisi kekuranganmu bukan mengisi kekosonganmu.

Dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa kegirangan

Berbagi duka dan kesenangan

Karena dalam rintik lembut embun, hati manusia menghirup fajar yang terbangun dan kesegaran gairah kehidupan.”
 
 

Puisi Kahlil Gibran Tentang Ibu

” Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.


Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.

Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya.

Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.

Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.

Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu.

Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.

Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan.

Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya.

Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.

Penuh cinta dan kedamaian.”




with my lovely mama Em-Hakem (mama nya Anas)- Allah ma'ak ya mama, istatilek ketiiiiirrr

Puisi Kahlil Gibran Tentang Cinta

“CINTA YANG AGUNG"




Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata

‘Aku turut berbahagia untukmu..

Apabila cinta tidak berhasil

…Bebaskan dirimu…

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi..

Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..

Tapi…

ketika cinta itu mati..

kamu tidak perlu mati bersamanya

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang..

MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh..”



“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”



“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang”



“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…”



“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan”



“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”



“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang”



“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”



“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”



foto dari om Google ^_^


Sabtu, 24 September 2011

Luangkan waktu sejenak untuk diam ...
Berhenti sejenak untuk melihat keluar ...
Dan mulai melihat ke dalam ...
Hening ...
Ketika kita diam, suara Tuhan akan terdengar ...
Tuhan selalu memberi petunjuk,
kita saja yang tidak mendengar ....
Kalau milih MAKAN ya KENYANG ...
Kalau milih TIDAK MAKAN ya LAPAR ...
Manusia BEBAS MEMILIH,
tapi TIDAK BEBAS DARI KONSEKUENSI PILIHANNYA ....
by Arif Rh

Doha Airport di pagi hari

Hidup ini indah...!

Kita bisa belajar banyak dari Rafi ( bukan nama sebenarnya) tentang bagaimana memberi motivasi dan masuk n yang membangun , menerima kritik dan menghadapi hidup dengan penuh makna yang luar biasa..


Rafi adalah seorang manajer disebuah restoran. Dia selalu happy dan tak pernah nampak bersedih . jika ada orang yang bertanya padanya " apa kabar?', maka dia akan menjawab "wah sangat dahsyat !! tak pernah lebih dahsyat dari saat ini !!."


Para pelayan di restorannya bersedia keluar dan mengikutinya dari satu tempat ke tempat yang lain , Jika Rafi pindah kerja. Kenapa? Itu karena sikap hidup Rafi yang luar biasa Positifnya.


Rafi adalah motivator yang sangat hebat. Jika salah seorang karyawannya sedang mengalami hari yang jelek, dia selalu ada dan memberi masukan yang membangun pada mereka dan membantu mereka melihat sisi positif dari kejadian yang sedang dialami.


Saya jadi penasaran,lalu saya menemui Rafi dan bertanya " Tak mungkin orang bisa bersikap positif sepanjang waktu !, Bagaimana kamu bisa melakukannya ?". Kata Rafi, " Tiap hari ketika aku bangun, aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku punya 2 pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk berada dalam suasana hati yang baik atau tenggelam dalam perasaan yang jelek . Aku selalu memilih berada pada perasaan yang baik.


Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau belajar dari kejadian tersebut. Aku selalu memilh belajar dari hal itu. tiap kali ada seseorang yang menyampaikan keluhan , aku dapat untuk menerima begitu saja keluhan mereka lalu marah atau kecewa, atau aku dapat menarik hikmah dari kejadian itu. Aku selalu memilih untuk menarik hikmahnya."


'Tapi kan gak segampang itu," Protes saya. "Bisa," Kata Rafi, "Hidup itu pada dasarnya adalah sebuah pilihan.Tiap hal yang terjadi adalah pilihan. Kamu bisa memilih bagaimana kamu bereaksi terhadap keadaan di sekelilingmu. Kamu bisa memilih untuk membiarkan orang orang mempengaruhi perasaanmu . kamu bisa memilih untuk ada dalam suasana hati yang baik atau buruk. bagaimana kamu hidup adalah pilihanmu."


Beberapa tahun kemudian , saya mendengar Rafi melakukan sesuatu yang tak boleh dilupakan para pengelola restoran Dia lupa mengunci pintu belakang, sehingga dia dirampok 3 orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas restoran , dia merasa sangat ketakutan sehingga jadi salah memutar nomor kombinasi. Para perampok jadi panik dan menembak Rafi. Untungnya Rafi segera ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit.


Setelah dioperasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif akhirnya Rafi meninggalkan Rumah Sakit dengan beberapa bekas serpihan peluru masih ada didalam tubuhnya. Saya melihat Rafi 6 bulan kemudian setelah kejadian itu.
Saat saya tanya bagaimana keadaannya, dia menjawab, " benar benar dahsyat !! Tak pernah lebih dahsyat dari sekarang ini!! mau melihat bekas luka saya ?, Saya melihat lukanya, sekaligus bertanya, apa yang dia pikrkan saat terjadinya perampokan.


" Hal yang pertama melintas dipikiranku adalah seharusnnya aku tidak lupa mengunci pintu belakang,". " Kemudian setelah mereka menembakku dan aku tergeletak di lantai, aku ingat kalau aku punya pilihan : aku memilih hidup atau mati. Aku memlih hidup."


"Kamu tak takut?" tanya saya. rafi melanjutkan , " Dokternya hebat hebat. Mereka terus berkata kalau aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi para dokter dan perawat, aku jadi takut. Dari ekspresi mereka seolah olah berkata' ni oirang bakalan mati'. Jadi aku harus bertindak cepat."


"Lalu apa yang kamu lakukan ? "tanyaku. " Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku apakah aku ada alergi?.'Iya'.Dokter dan suster berhenti dan menunggu jawabanku. Lalu aku berteriak dengan sangat keras " aku alergi PELURU !!" Mereka lalu tertawa dan ketika mereka tertawa aku berkata ,' Aku memilih untuk hidup. Tolong operasi saya sebagai orang hidup, bukan sebagai orang mati'!!."


Rafi bisa terus bertahan hidup bukan hanya karena keahlian tenaga medis yang hebat,tapi juga karena sikap hidupnya yang mengagumkan. kita bisa belajar dari Rafi bahwa tiap hari kita dapat memilih apa kita akan menikmati hidup kita yang hanya sekali ini atau malah membencinya?. Satu hal yang benar benar milik kita yang tak bisa dikendalikan orang lain adalh sikap hidup kita , sehingga jika kita bisa mengendalikannya, maka segala hal dalm hidup ini akan jadi lebih indah, penuh warna dan lebih bermakna dari sebelumnya..

Salam kebahagiaan...

(Fahmy 'Arafat, Energy Healer n Mind Explorer)



Jiwa anda adalah relative


Seseorang yang mempunyai masalah dalam kehidupan akan merasa ‘sumpek’, sempit, dan terhimpit, ketika ia hanya memandang masalah yang ia hadapi dari satu sudut pandang, yaitu sudut pandang yang ia pakai saat ini. Ia akan menganggap masalahnya adalah sebuah sudut tetap yang tidak berubah. Ia terpaku pada satu pikiran dan menafsirkan kesulitan-kesulitan yang ia hadapi dalam pemikirannya sendiri.

“Sesungguhnya, sebagian besar kesulitan yang disebabkan oleh permasalahan kita berasal dari prasangka kita sendiri yang tidak berubah mengenai cara kita menafsirkan kesulitan-kesulitan pribadi pada diri kita sendiri”

Saya akan merasa terhimpit dan selamanya terhimpit masalah  yang saya hadapi, ketika saya tidak berani bertanya pada diri sendiri : “Bagaimana jika prasangka saya terhadap masalah saya ini ternyata salah?
Kedamaian adalah sebuah kesadaran bahwa pandangan kita hanyalah salah satu sudut pandang, dan kita sedang belajar untuk memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Kedamaian yang dipahami sebagai meluasnya kesadaran, adalah langkah untuk melangkah menuju berbagai sudut yang sebelumnya belum pernah kita kunjungi.

“Spiritualitas mempunyai makna menggali perspektif yang semakin luas”

Banyak yang meng-klaim dirinya spiritualis, namun ternyata pandangannya malah semakin sempit. Bagaimana bisa mengatakan dirinya spiritual atau kelompok spiritual kalau ternyata ia hanya mengenal satu sudut pandang, yaitu sudut pandang dirinya sendiri.

Pada saat berada di ruang tunggu bandara untuk naik pesawat, saya hanya melihat orang-orang di ruang tunggu tersebut. Bagi saya yang saat itu di ruang tunggu bandara, saya tidak melihat yang dinamakan kota Tangerang itu apa, saya tidak melihat kota Bekasi itu apa, saya tidak melihat orang-orang yang sedang melaju di jalan tol Cawang itu seperti apa.
Ketika ada orang yang baru saja datang dari Tangerang dan bercerita tentang Tangerang, saya tidak percaya, karena yang saya percayai hanyalah pandangan yang saya liat, yaitu ruang tunggu bandara. Ketika ada yang bercerita tentang kemacetan saat itu di tol Cawang, saya juga tidak percaya, karena yang saya lihat hanyalah ruang tunggu bandara.

Kemudian tibalah saatnya saya memasuki pesawat. Perlahan-lahan pesawat saya naik keatas. Pandangan saya sekarang lebih luas dari sekedar ruang tunggu bandara. Saya melihat area bandara. Semakin ke atas lagi dan saya melihat Kota Tangerang, dan saya berbisik, “ternyata yang dikatakan oleh orang itu benar”
Semakin tinggi lagi saya naik saya melihat keadaan tol Cawang. Dan saat itu juga saya berbisik, “ternyata kemacetan tadi itu benar adanya”

Ketika pesawat saya semakin naik lagi, pandangan saya semakin luas. Saya melihat pulau Jawa dan melihat pulau lainnya. Sudut pandang saya diatas semakin lebar, yang artinya saya bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang-orang di daratan sana.

“Saat saya keluar dari diri saya dan melihat segala sesuatunya dari diri orang lain, maka saya akan menemukan pemahaman yang luar biasa”

Bagaimana jika, ketika anda punya masalah dengan orang lain dan ternyata anda yang salah dan orang lain tersebut yang benar?
Bagaimana jika, apa yang anda yakini selama ini adalah salah, dan yang diyakini oleh orang lain itu benar?
Bagaimana jika, anda bukan manusia biasa dan ternyata anda adalah utusan yang istimewa?

Dan lihat, hanya dengan 3 pertanyaan yang diawali ‘bagaimana jika’, pikiran anda sudah mulai ber-argument dan memperlihatkan sedang mempertahankan posisi kuatnya yang tidak mau digeser.
Apakah anda menyadarinya?
Saya ulangi lagi dan tanyakan ini pada diri anda: “Bagaimana jika keyakinan yang saya yakini selama ini ternyata salah ?”
Apa reaksi pikiran anda?

Hari ke dua belas ini adalah membiarkan pikiran anda seharian ini dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan yang diawali dengan: Bagaimana jika?
Apapun yang anda hadapi, buat pertanyaan dengan ‘bagaimana jika’
  • Bagaimana jika pasanganku tidak mencitaiku?
  • Bagaimana jika aku mencintai orang lain?
  • Bagaimana jika orang itu membenci saya?
  • Bagaimana jika setiap orang saya beri uang yang banyak?
  • Bagaimana jika saya ini malaikat?
  • Dll ….

Biarkan pikiran anda pada hari ke dua belas ini diobok-obok oleh kesadaran anda sendiri yang sedang memaksa jiwa untuk bergerak naik!
Jiwa anda adalah relative, untuk itu tidak terbatasi oleh apapun juga. Jadi mengapa anda mau dibatasi oleh pemikiran anda sendiri? Dan mengapa anda menciptakan batasan-batasan dalam pikiran anda?

“Bagaimana jika, anda ternyata adalah pribadi yang tidak terbatasi oleh apapun juga? Dan ternyata sekarang sedang melakukan kesalahan menganggap anda sebagai manusia yang penuh keterbatasan?”

Salam Jernih & Damai
Agung Webe – http://www.agungwebe.net
Bekasi, 12 Agustus 2011

mengikuti aliran pikiran tanpa menilai


Di hutan Irian, banyak sekali burung dengan aneka jenis yang indah. Beberapa burung seperti Cendrawasih yang hidup terbang di atas pohon, sampai saat ini masih diburu oleh pemburu-pemburu liar guna diperjual belikan. Burung tersebut tentu saja mempunyai rasa cemas dan gelisah kerana menyadari bahwa dirinya menjadi buruan banyak orang.
Ada juga beberapa burung yang hidup di bawah, dengan membuat sarang di bawah, dan tidak dikejar-kejar oleh para pemburu. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak gelisah, tidak penuh kecemasan karena ancaman diburu.

Burung-burung yang hidup dibawah, dekat dengan bumi, akan merasakan kedamaian karena ia dekat dengan sumber kerendah-hatian”

Ada beberapa orang yang meninggikan dirinya, sengaja membuat dirinya tinggi dari status, jabatan, ataupun nama. Ketinggian dirinya tentu saja menyebabkan rasa cemas, gelisah, dan takut dengan‘perburuan’ dari rasa was-was akan kehilangan semua yang dimiliki.
Sementara orang yang memilih ada di kerendahan, dekat dengan bumi, akan merasa damai karena mereka tidak dikejar oleh rasa gengsi, dan tidak cemas akan kehilangan sesuatu.

Kecemasan kita dan rasa takut kita digambarkan oleh pikiran kita sendiri. Banyak dari kita yang secara tidak sadar mempunyai ketakukan tersembunyi, yiatu selalu menghilangkan atau ‘membunuh’gambar pikiran untuk mencapai kondisi ‘khusuk’

“Dengan berusaha menepis gambar-gambar pikiran, menghilangkannya untuk kondisi yang dipahami sebagai khusuk, menggambarkan bahwa kita takut dan cemas kehilangan sesuatu.”

Khusuk bukanlah konsentrasi, khusuk adalah ‘trance’.
Dalam beribadah kita memang harus mengalami ‘trance’ yaitu mengalami penyatuan antara kehidupan luar kita ( sebagai saksi ) dan kehidupan dalam kita ( sebagai yang disaksikan ).
Sekali lagi bahwa khusuk bukanlah konsentrasi yang mengharuskan kita focus pada satu titik dan mengharapkan pikiran tidak mengeluarkan gambar-gambar lainnya, sehingga bila pikiran sedang mengeluarkan gambar lain, sesegera mungkin anda tepis dan anda hilangkan. Anda berusaha kembali focus pada satu titik yang anda buat.
Apa yang terjadi?
Sekali gambar pikiran dihilangkan, ia akan tumbuh seribu. Ya prinsip mati satu tumbuh seribu sangat berlaku sekali bagi gambar-gambar pikiran anda. Jadi akan sampai kapan anda berusaha  menghilangkan gambar pikiran untuk satu kondisi yang anda namakan khusuk?

“Khusuk tidak akan pernah dicapai dengan konsentrasi”

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara khusuk dan konsentrasi. Khusyuk adalah kondisi penyatuan antara kehidupan luar dan kehidupan dalam, dalam bahasa lain disebut sebagai ‘trance’. Dan trance hanya bisa dicapai dengan menyadari sepenuhnya aliran pikiran dan hanyut dalam aliran tersebut.
Sementara konsentrasi adalah kegiatan pemusatan pikiran yang menyebabkan ia mengambil jarak dan dengan jarak tersebut ia berdiri kokoh sehingga tidak bisa hanyut.

Hari kesembilan ini, kita akan melihat lagi tentang paradigm kita tentang khusuk.
Apakah yang saya lakukan selama ini untuk berusaha khusuk itu adalah konsentrasi atau trance?
Apabila khusuk yang anda lakukan adalah focus kepada satu titik dan mencoba menghilangkan, menepis atau membunuh gambar-gambar pikiran anda, maka usaha tersebut akan sia-sia, karena pikiran akan mengeluarkan seribu gambar ketika satu gambarnya anda bunuh!

Hari kesembilan ini adalah meng-aplikasikan artikel hari ke delapan dalam kegiatan yang membutuhkan khusuk anda. Setiap kali ibadah yang anda harapakan akan menjadi khusuk di dalamnya, ikuti aliran pikiran yang ada. Hanya mengikuti sampai sejauh mana gambar itu bisa bertahan disana. Ia tidak akan bertahan, ia akan selalu berganti seperti slide-slide film. Apabila anda benar-benar mengikuti tanpa menilai, sekali lagi adalah mengikuti aliran pikiran tanpa menilai, maka anda akan masuk dalam kondisi khusuk atau trance tersebut.

Dalam keadaan khsusuk, anda akan hanyut dalam penyatuan antara kehidupan luar anda dan kehidupan dalam anda.

Salam Jernih &Damai
Agung Webe – http://www.agungwebe.net
Bekasi, 9 Agustus 2011

mencerna kesan kehidupan


Dalam perjalanan mengendarai kendaraan, saya melihat sebuah pesawat terbang diatas pandangan saya yang seolah-olah berhenti. Setahu saya, pesawat terbang melaju dengan kecepatan 830km/jam. Kendaraan yang saya kendarai saat itu melaju dengan kecepatan 80km/jam, jadi kira-kira hanya 1/10 dari kecepatan pesawat. Sejenak saya bingung, mengapa pesawat yang saya lihat seolah-olah berhenti di udara?
Setelah saya ketahui, ternyata pesawat terbang yang saya lihat di atas tersebut tidaklah berhenti, ia melaju dengan kecepatan yang sama. Ia tampak seolah-olah berhenti karena saya sedang melaju kearah yang berlawanan dengan kecepatan yang lebih lambat.

Saya jadi teringat dengan kehidupan.
Banyak dari kita yang melihat bahwa lingkungan seakan-akan tidak berubah. Ia melihat semua stagnant. Seseorang merasa telah melakukan sesuatu namun semua yang dilihat tetap tidak berubah. Apa yang terjadi?
Seperti saat kita melihat pesawat yang seolah-olah berhenti tadi. Kehidupan sebenarnya sedang begerak dengan kecepatan yang tinggi. Ia sedang berubah bahkan pada setiap detik yang ada. Bagaimana dengan kita? Apabila saat itu kita melihat lingkungan sedang mengalami stagnancy , kitaharus segera sadar dan sepenuhnya sadar bahwa bukan lingkungan yang berhenti! Saat itu kita sedang bergerak lebih lambat bahkan berlainan arah dengan arah bergeraknya kehidupan.

Kita akan dengan jernih melihat hal-hal seperti itu dan setelah kita sadar lalu kita memperbaiki laju pergerakan kita, menentukan arahnya dan menambah kecepatan pergerakan jiwa kita.
Semua yang terlihat ( seperti berhentinya pesawat tadi ) adalah ‘kesan’ dari semua peristiwa yang mampir di kehidupan kita. Apabila anda mempraktekkan latihan pada artikel ke 8, maka anda dapat melihat dengan jelas yang dinamakan ‘kesan’ tersebut.

Sekarang, setelah kita di bombardier oleh kesan sepanjang hari dalam kehidupan ini, apa yang bisa kita lakukan dengan serangan kesan tersebut?
Sekarang saya mengajak anda untuk melihat system pencernaan anda. Anda memasak nasi agar nasi lebih mudah dicerna daripada beras. Anda merebus sayuran supaya beberapa jenis sayuran juga bisa lebih dicerna oleh tubuh kita. Pada saat setelah anda memakan makanan, semua makanan itupun kembali dicerna dengan jalan dihancurkan oleh enzyme-enzyme dari pancreas dan hati.

“Hal yang sama terjadi juga pada ‘kesan-kesan’ yang akan masuk ke dalam diri anda. Kesan tersebut dapat anda cerna, dapat anda hancurkan, dan anda proses kemudian diubah dalam jiwa anda.”

Dengan cara yang sama seperti ketika system pencernaan anda menerima makanan dan menolak makanan tertentu, demikian juga dengan pikiran kita yang membantu mencerna ‘kesan kehidupan’.
Sekarang kita akan flash back terlebih dahulu. Apakah selama ini anda menyadari bahwa anda harus mencerna kesan kehidupan tersebut?
  • Bagaimana apabila anda makan beras dan bukan makan nasi?
  • Bagaimana apabila anda makan kentang mentah dan tidak direbus terlebih dahulu?
  • Bagaimana jadinya apabila pencernaan anda terganggu dan makanan yang anda makan tidak dapat dicerna di dalam perut?

Itulah yang terjadi apabila anda tidak melakukan proses mencerna terlebih dahulu, padahal pada pikiran anda telah tersedia system pencernaan untuk mengolah kesan tersebut.

“Kejernihan adalah mudahnya jiwa anda menampung makanan dari kesan kehidupan yang telah dicerna oleh pikiran”

Dalam tradisi meditasi kuno, proses mencerna kesan ini dinamakan Vairagya, atau apabila saya tulis dalam bahasa modern adalah proses transmutasi.
Latihan ini berkaitan dengan latihan pada artikel pertama. Apabila anda telah melakukan latihan pada artikel pertama, anda akan dengan mudah melanjutkan pada teknik ini.

Latihan ini akan memudahkan anda mencerna kesan kehidupan sebelum masuk ke dalam diri anda.
  • Bersamaan dengan menarik nafas, ingat semua kesan yang hadir saat itu ( biasanya kesan yang paling besar dan paling menghantui kehidupan ) entah itu masalah trauma, masalah emosi, bertengkar dengan orang lain, kegagalan, atau apapun juga. Saat bersamaan dengan tarikan nafas, kesan itu akan menyisakan intisari situasi, seperti kemarahan, rasa bersalah, luka, kesedihan.
  • Tahan nafas anda sebentar, dan bayangkan semua intisari yang anda dapatkan pada saat menarik nafas tadi masuk dalam sebuah mesin daur ulang. Apabila anda termasuk orang yang susah berimajinasi, maka cukup ucapkanlah dalam diri anda: “semua kesan yang masuk dalam diriku saat ini sedang aku saring dalam pikiranku
  • Keluarkan nafas perlanan dan  bayangkanlah semua sampah hasil daur ulang tadi anda lemparkan ke alam semesta. Atau ucapkan dalam diri anda: “ semua sampah yang tidak berguna dari kesan kehidupan aku kembalikan ke alam semesta

Apa gunanya Vairagya ini?
Jawabnya sama seperti pertanyaan: bagaimana apabila system pencernaan dalam perut anda terganggu?
Saat ini, setelah anda menyadari bahwa apabila selama ini anda tidak pernah mencerna kesan yang masuk, dan membiarkan kesan tanpa dicerna merusak system di dalam diri anda, anda segera menyadari bahwa ‘oh itulah sebabnya diri saya belum jernih!’

Salam Jernih & Damai
Agung Webe – http://www.agungwebe.net
Bekasi, 13 Agustus 2011

THE MIRACLE OF "SABAR!"

Semoga kisah ini sahih ... (copas dari milis lain)

Seandainya sanadnya kurang jelas, ada kisah serupa, bahkan ada yang pernah saya saksikan sendiri ...

sekedar memberi motivasi


https://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=10150273017086921



==================

SEBUAH KISAH DARI TANAH ARAB.....



Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah.

Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.
Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.
Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.
Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.
Hari itu Ammar tidak terlihat.

Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.

"Oh kamu tidak tahu?"

Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.
"Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?" Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.

Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu.
Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.
Do'a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.

Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat...
Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir..

Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang.

Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia.
Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini.
Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.

Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya.

Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun Manusia.
Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan.
Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.

Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang.
Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.

Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.

Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.

Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.
Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema..

Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.

Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.

Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.

Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.

Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan,

Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai.

Ammar masih bingung untuk memulai langkah.
Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.

Dilihatnya beberapa mushaf al Qur'an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur'an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
Selepas Maghrib ia masih disana.

Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.
Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu.
Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas.
Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.

Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.

Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara,

Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya.
Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan.
Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.
Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.
Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.

Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata "Prince memanggilmu".
Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.

Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil..

Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.

Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.

Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya: "Berapakah gajihmu dalam satu bulan?"

Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.

Prince memakluminya.
Beliau bertanya lagi: "Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?"

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: "Hanya SR 1.400", jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang.

1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.

Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,

Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:

"Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini"

Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya.

Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.

Semua berubah dalam sekejap!

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.
Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.
Nothing Imposible for Allah,

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah,..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Subhanallah...
Seperti itulah buah dari kesabaran.

"Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.

Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya". (NAI)

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ


"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar". (Al Fushilat 35)

Allahuakbar!

Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya

 

Rabu, 14 September 2011

Si Kung kung dan cermin kamar

Baru saja terjadi sesuatu yang mengejutkan. Adik saya yang namanya Fahreza dan biasa saya panggil Kung kung merusak cermin didalam kamar saya didepan mata! Hemm, saat saya akan marah saya teringat cerita dari George Washington dan bapaknya.


Satu hari secara nggak sengaja George menebang pohon anggur kesayangan bapaknya. Dia melakukannya karena sangat gembira mendapatkan kapak yang baru sehingga maen potong and tebang sana sini saja. Tak sadar dia juga menebang pohon kesayangan bapaknya.

Dia pun ketakutan. Pasti bapaknya marah! Waduh gimana ini? Dia sempat berpikir untuk berbohong pada bapaknya TAPI...dia sudah diajarkan untuk selalu jujur dalam segala situasi. Konflik batin yang hebat menerpa dirinya!

Hingga akhirnya dia memutuskan untuk berkata jujur. Ketika bapaknya tahu bahwa pohon kesayangan yang sudah dipeliharanya bertahun tahun remuk redam entah siapa yang menebang, dia bertnaya pada George 'Siapa yang berani beranian menebang pohonku!' dengan wajah seram dan suara menggelegar.

George takut namun memutuskan untuk berkata jujur pada bapaknya. 'Pak, akulah yang menebang pohon tadi, aku terlalu bersemangat dapat kapak yang baru sehingga aku kebablasan' katanya dengan ketakutan.

mendengar kejadian itu bapaknya berang dan akan marah besar! GAWAT!
NAMUN, sesaat kemudian, tiba tiba wajahnya meneduh dan tenang lalu tiba tiba tersenyum seolah baru mendapat hadiah terbesar. Malah dia dengan kebapakn dan penuh kebijaksanaan berkata 'Anakku, AKU LEBIH SUKA PUNYA ANAK YANG JUJUR daripada sebuah pohon anggur'.

Saat menulis bagian ini, saya menangis terharu. Betapa hebat dan bijaknya sang bapak. Menerima kondisi anak apa adanya dan mendukung kejujuran. Dan karakter kuat ini yang mungkin membuat George Washington dipercaya United States of America menjadi Presiden pertama mereka dalam sejarah dunia!

Saya membaca kisah ini saat kecil dari sebuah majalah atau koran anak anak dan sangat membekas sampai sekarang efeknya. Memang benar kata orang bijak 'kejujuran itu adalah mata uang yang selalu laku dimanapun kita berada, sepanjang masa'

Kembali pada si Kung kung. Saya melihatnya dan mau marah namun teringat kisah ini dan berpikir 'Mana yang lebih penting, adikmu atau cermin ini?'. Saya memilih yang pertama dengan pertimbangan bahwa dia adalah adik yang akan jadi pewaris kebaikan dari keluarga kami kelak.

I love u Kung kung..
Jadi anak yang baik dan suka menolong yaa :)
'Kejujuran adalah bab pertama dalam Kitab KEBIJAKSANAAN' (Thomas Jefferson).

Salam Kejujuran :)
Fahmy Terapis Gaul.
https://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/fahmy-terapis-gaul/si-kung-kung-dan-cermin-kamar/10150283307416050