SMILE...^_^

Selasa, 05 Juli 2011

22 TANDA IMAN ANDA SEDANG LEMAH







Bismillahir-Rahmanir-Rahim....
Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:

1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika Anda terasa malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2-3)

Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut:2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash:55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

Oleh: Mochamad Bugi ( dakwatuna.com )

Semoga bermanfaat dan penuh Kebarokahan dari Allah.....

Marilah Setiap detak-detik jantung..,
selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

 Vicky
Zawiyah Sirul Barokah
 Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik....



7 kali Berhaji tanpa Melihat Ka’bah


Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan.

Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”. Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya. Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak.

Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. Kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji. Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal.

Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).

Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.

Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya. “Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon.

“Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya.

“Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu.

“Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian. “Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.” Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. “Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah. “Cuma itu ? tanya ulama terperangah.

“Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.

“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.

“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”

“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama. “Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”

“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.

“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.” “Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah. “Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.

Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”

Bumi menolaknya

Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri.

Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu. “Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan. Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. “Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit. Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri. Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya.

Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. “Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya. Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar.

Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

Semoga bermanfaat.

Marilah Setiap detak-detik jantung.., selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...


Vicky
Halaqah Sirrul Barokah

Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ... Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

sumber:
http://vickyrobiyanto.blogspot.com/2010_06_01_archive.html

Sesungguhnya wanita itu mutiara terindah.....



Seorang pria perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya... Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata....
Dan tentu untuk itu, pria tersebut harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara terindah itu....

Wanita itu merupakan separuh dari jiwa yang hilang...
Maka seorang pria harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti,melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa...
Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa
menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian...

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakannya, bukan pada bentuk tubuhnya, atau cara dia menyisir rambutnya...
Kecantikan wanita terdapat pada matanya, cara dia memandang dunia...
Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang...
Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajahnya.
Tetapi kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan kepada Allah ataupun kepada keluarga....
Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu...
Tak tidak rentan dimakan oleh waktu dan zaman...

Semarak cahaya kecantikan para wanita sesungguhnya tersembunyi dalam pribadinya masing-masing...
Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkan kata-kata kebaikan...
Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai...
Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan..
Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan sesungguhnya ia tidak akan pernah berjalan sendirian...

Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat
wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat
kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya....
Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. itulah rahasia wanita yg sesungguhnya....


10 Kualitas Pribadi Yang Di Sukai

Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking

Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah- masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

Empati

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.



copas dr blognya bpk Vickyhttp://vickyrobiyanto.blogspot.com/2010_02_01_archive.html

PAHALA MEMBANTU TETANGGA DAN ANAK YATIM DIBANDINGKAN DENGAN HAJI ....



Bismiilahi walhamdulilahi wa la haula wala quwata ila billahi.....
Bismillahi Nawaitul Lilahi Ta'ala......

Assalamu’alaikum warohmatullallhi wabarokaatuh, ..

Bismillahi minal Awwali wal Akhiri.....
Allaahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli 'alaihi wa sallim wa adzhib hazana qalbiy fin-dunya wal-aakhirah.............

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
Abdullah bin al-Mubarak hidup di Mekkah. Pada suatu waktu, setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“600.000,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” aku menangis. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

“Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama. “Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni.”

Ketika aku mendengar hal ini, aku terbangun dan memutuskan untuk pergi menuju Damaskus dan mengunjungi orang ini. Jadi aku pergi ke Damaskus dan menemukan tempat dimana ia tinggal. Aku menyapanya dan ia keluar. “ Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku Ali bin Mowaffaq, penjual sepatu. Siapakah namamu?”

Kepadanya aku mengatakan Abdullah bin al-Mubarak. Ia tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. Ketika ia sadar, aku memohon agar ia bercerita kepadaku. Dia mengatakan: “Selama 40 tahun aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Aku telah menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah, dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya. Tetanggaku mendadak menagis. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya. “Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku. “Inilah perjalanan hajiku.”

“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah, “dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”

******
Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan seorang petapa termasyhur. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.

Kisah di atas diambil dari buku “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din Attar.

Edisi Inggris “Muslim Saints and Mystics: Episodes from the Tadhkirat al-Auliya (Memorial of the Saints) By Farid al-Din Attar”

Demikianlah cerita yang sangat berkesan bahwa membantu jiran tetangga yang dalam kelaparan amat besar pahalanya apalagi di dalamnya terdapat anak-anak yatim...

Rasulullah ada ditanya,
“Ya Rasullah tunjukkan padaku amal perbuatan yang bila kuamalkan akan masuk syurga.”
Jawab Rasulullah, “Jadilah kamu orang yang baik.”

Orang itu bertanya lagi, “Ya Rasulullah, bagaimanakah akan aku ketahui bahwa aku telah berbuat baik?”

Jawab Rasulullah, “Tanyakan pada tetanggamu, maka bila mereka berkata engkau baik maka engkau benar-benar baik dan bila mereka berkata engkau jahat, maka engkau sebenarnya jahat.”


ikhlas...
Mewujudkan Ikhlas bukanlah pekerjaan yang mudah sebagimana kita membalikkan terlapak tangan atau sekedar berkata-kata. Kita bisa lihat betapa manusia sulit ikhlas pada saat cinta pergi ditelan bumi..., sulit sekali ikhlas pada saat menatap punggung cinta pergi meninggalkan kita..., sulit sekali ikhlas pada saat sahabat-sahabatn pergi, sulit sekali ikhlas pada saat apa yang selama ini dimiliki harus menjadi milik orang lain, sulit sekali ikhlas saat kita sudah tak memiliki apa-apa lagi..sulit sekali ikhlas saat jiwa harus berada di ujung bukit asa yang nyaris pupus....

Mungkin kita lupa, bukankah pada dasarnya yang ada hanya Allah swt, maka semuanya adalah milik Dia...Karena semua milik Allah swt. maka semua harus dikembalikan kepada-Nya. ikhlas adlah memuarakan semuanya kepada Allah. Seharusnya kita terima semua kehilangan demi kehilangan, kedatangan demi kedatangan, kemudian serahkankembali semuanya kepada Allah..


Semoga Bermanfaat ...

Marilah Setiap detak-detik jantung.., selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

Vicky
Halaqah Sirrul Barokah

Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ... Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ..


copas dr blognya bpk Vicky...smoga Allah membalas kebaikan beliau..amiin ya Rabb...
http://vickyrobiyanto.blogspot.com/2010/07/pahala-membantu-tetangga-dan-anak-yatim.html?showComment=1309864936415#c2487930566724894901

Senin, 04 Juli 2011

RAHASIA KEBAHAGIAAN by: Lutfi S Fz ‎



Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan : Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang.



Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.



Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih.



Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap.



Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati : memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.



Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.



Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.



Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya.



Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".



Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan.



Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?



Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.



Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam perkara-perkara yang tidak prinsipiil.

SEMUA DICIPTAKAN BERPASANGAN ; MAKNA DI BALIK DUALITAS



“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya
baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa
yang mereka tidak ketahui”
(Terjemahan Q.S. Yaa Siin, Surat 36 ayat 36) 

Dualitas (dalam englishnya Duality)? Apa sih maksudnya? Lihat saja tulisan di atas, ada angka kembar, surat 36 ayat 36. Hue he he, dualitas itu sama dengan polaritas (dalam englishnya Polarity). Maksudnya bahwa segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Mari kita lihat dalam kehidupan ini. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada siang, ada malam. Ada baik, ada jahat. Ada atas, ada bawah. Ada gemuk, ada kurus. Ada panjang, ada pendek. Ada kaya, ada miskin. Ada atasan, ada bawahan. Ada luar, ada dalam. Ada jantan, ada betina. Ada hidup, ada mati. Ada aku, ada dia. Dan sebagainya, dan sebagainya. Bukankah itu yang kita “lihat” dalam kehidupan ini?

Pertanyaannya sederhana, kenapa sih desain kehidupan harus seperti itu? Mengapa harus ada dualitas? Jujur menjawab pertanyaan itu cukup sulit. Sulit dalam artian setiap jawaban yang saya ajukan akan memiliki konsekuensi munculnya pertanyaan lagi yang jauh lebih dalam. Dan ujung-ujungnya akan menyentuh wilayah ketuhanan lagi yang sangat berpotensi menimbulkan perdebatan. Hemmm, tapi saya beranikan untuk menjawab pertanyaan tersebut, dengan segala resiko tentunya. Lanjuuuut maaaas.

Satu hal yang harus kita sadari adalah bahwa ALAM SEMESTA ini dan KEHIDUPAN di dalamnya adalah PENAMPAKAN TUHAN. Saya ulangi sekali lagi, ALAM SEMESTA tidak sama dengan TUHAN. Semuanya adalah PENAMPAKAN TUHAN. KEHIDUPAN adalah PENAMPAKAN TUHAN. Sehingga konsekuensinya sifat kehidupan itu sendiri adalah percikan sifat-sifat TUHAN. Apa sih salah satu sifat Tuhan? Salah satunya adalah sifat DWITUNGGAL yaitu SEMUA SIFAT “yang kita anggap berlawanan” itu bergabung secara harmonis dalam dzat-Nya. Misalnya, Tuhan itu bukan laki-laki, bukan perempuan dan bukan pula banci. Tapi laki-laki dan perempuan itu BERASAL dari Tuhan. Ini yang saya sebut sifat DWITUNGGAL.

Sifat dualitas pada hakikatnya adalah SATU. Ibarat sebuah koin receh pasti ada dua sisi. Namun kedua sisi itu adalah BAGIAN dari satu koin yang sama. Saya ambil sebuah contoh misal dualitas SIANG dan MALAM. Kita menganggap dua hal itu berlawanan. Apakah mungkin SIANG dan MALAM bisa berjalan di waktu yang sama? BISA! Saat saya menulis note ini waktunya SIANG. Tapi pasti di belahan bumi yang lain sedang malam. Bukankah itu membuktikan SIANG dan MALAM terjadi dalam satu waktu? Kalau tidak percaya ya kita harus melakukan sebuah eksperimen berbiaya sangat besar. Yaitu menyewa pesawat ulang alik NASA. Mari kita ke ruang angkasa. Dan kita akan menyaksikan bahwa di bumi ini SIANG dan MALAM berjalan bersamaan. Dalam pelatihan biasanya saya menggunakan permainan MOBIOUS STRIP untuk menunjukkan bahwa DUALITAS itu SEMU. Dua hal itu sebenarnya SATU!

So, sadari bahwa dengan adanya dualitas dalam kehidupan ini kita sebenarnya diajak untuk melihat “WAJAH TUHAN” (dalam tanda kutip lho itu) dan mengenal sifat-Nya yang DWITUNGGAL.



Mari kita perhatikan bohlam listrik. Mengapa ia bisa menyala? Karena ada dua arus yang berlawanan dan berpasangan yaitu arus listrik positif dan arus listrik negatif bertemu. Bila hanya ada arus yang positif saja atau hanya ada arus yang negatif saja tidak mungkin ia bisa menyala. Nah, sebagaimana bohlam listrik tadi, kehidupan ini bisa “menyala” karena pertemuan kedua hal yang saling berlawanan atau berpasangan. Bukankah kita bisa mengenal suka karena ada duka? Bukankah kita bisa merasakan nikmatnya sehat karena ada sakit? Bukankah kita bisa mengenal siang karena adanya malam? Semua dualitas yang ada membuat kehidupan menjadi “menyala”. Bikin hidup semakin hidup.

Dualitas juga menciptakan neraca keseimbangan dalam kehidupan. Saya ambil contoh adanya dualitas hidup dan mati. Sekarang bayangkan saja jika dalam kehidupan ini hanya ada kehidupan dan tidak ada kematian. Apa yang akan terjadi? Dunia akan penuh sesak dengan makhluk hidup yang terus bertambah dan tidak penah mati. Sebaliknya, jika dalam kehidupan hanya ada kematian, maka habislah semua makhluk hidup yang ada alias tidak ada kehidupan. Adanya dualitas kehidupan dan kematian membuat komposisi jumlah penduduk dengan kapasitas bumi menjadi pas dan ideal alias SEIMBANG.

Dualitas melahirkan kebebasan kita untuk memilih dan membuat keputusan. Kita bisa memilih menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Kita bisa memilih menjadi orang yang dermawan atau menjadi orang pelit. Bahkan kita bisa memilih untuk percaya kepada Tuhan ataupun tidak. Luar biasa bukan? Kebebasan kita untuk memilih dan membuat keputusan ini adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita. Namun kita harus hati-hati menggunakan anugerah terbesar itu. Karena ada yang saya sebut sebagai decision wisdom yang bunyinya “manusia bebas untuk memilih dan memutuskan, namun ia tidak bisa lepas dari KONSEKUENSI pilihan dan keputusannya”. Misalnya, anda bebas memilih MAKAN atau TIDAK MAKAN. Tapi tidak bisa memilih LAPAR atau KENYANG. Kalau anda memilih MAKAN ya konsekuensinya KENYANG. Kalau anda memilih TIDAK MAKAN ya konsekuensinya LAPAR. Ini berlaku untuk dualitas apapun. Termasuk anda mau memilih jadi orang jahat atau orang baik. Tapi bersiaplah menanggung segala konsekuensinya!

So, saya ucapkan “selamat datang dalam kehidupan yang penuh dengan dualitas”. Menerima keberadaan dualitas berarti kita telah mampu menerima kehidupan ini SEUTUHNYA. Nah jika kita belum bisa menerima adanya dualitas itu maka sama saja kita tidak menerima kodrat kehidupan ini. Apa akibatnya? KITA PASTI AKAN MENDERITA DALAM HIDUP. Ya sekarang bayangkan saja kita hanya menerima SIANG dan TIDAK MAU adanya MALAM. Kita hanya mau MUDAH dan TIDAK MAU adanya KESULITAN. Bukankah sudah disampaikan dalam Al Qur’an bahwa “BERSAMA KESULITAN terdapat adanya KEMUDAHAN”? Ingat kata kuncinya adalah kata BERSAMA bukan SESUDAH. Artinya ketika kita mengalami KESULITAN dan MENERIMANYA maka kita akan menemukan KEMUDAHAN di situ. Tuhan itu selalu menyajikan BAKSO YANG ENAK SATU PAKET secara BERSAMAAN, cuman kitanya yang HANYA MELIHAT keberadaan “SAMBELNYA” saja dan mengeluh “lha wong lagi laper kok dikasih sambel!?”. SADARI bahwa BERSAMA “SAMBEL” ITU ADA “BAKSO DAN KUAHNYA” YANG NIKMUAAAAAAAT hue he he.  

Sebagai penutup note ini ijinkan saya mengutip bagian lyric lagu d’massiv, “syukuri apa yang adaaaaaaaa, hidup adalah anugeraaaaaah, tetap jalanii hidup iniiii, melakukan yang teeerbaiiiik”. Tamat.


Salam Yin Yang
ARIF RH -- The Happiness Consultant


MELEPASKAN “TOPENG”

Dulu sebelum mengenal dunia pengembangan diri saya pernah bergabung dalam sebuah komunitas bisnis dimana gengsi menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Saya memaksakan membeli sesuatu demi sebuah gengsi, memaksakan life style yang belum sebanding dengan pemasukan saya waktu itu. Akibatnya saya terjebak banyak hutang. Sudah banyak hutang karena persoalan bisnis ditambah lagi gengsi saya gede, wah ya udah deh terjebak lingkaran setan sampe makan aja susah dan harus utang-utang lagi. So, saya pernah merasakan sengsaranya hidup dengan topeng. Sehingga sejak kejadian di masa lalu itu saya takut terhadap penawaran-penawaran segala macam bentuk topeng kehidupan. Lebih bebas hidup dengan menampilkan apa adanya.

Penawaran topeng ini berdasarkan pengalaman sumbernya dua. 
Yang pertama dari diri sendiri dan yang kedua dari anggapan orang lain atau lingkungan terhadap kita . 

Mengapa soal topeng ini sangat penting? 
Karena dalam jangka panjang akan mencekik leher sendiri.
 Apakah saya berlebihan dan menggeneralisasi pengalaman pribadi? No, teman-teman dekat saya yang masih terus berada dalam komunitas bisnis yang dulu itu saat ini pada kejebak sebagaimana saya dulu. Akhirnya ya dikejar-kejar debt collector dan dimusuhi banyak orang. Semua barang yang tadinya dimiliki terjual satu-satu mulai dari mobil bahkan sampai hape. Astaghfirullah. Saya sedih sekali. Semoga teman-teman saya itu tabah menerima semuanya dan tersadar tentang bahayanya hidup dalam topeng kepura-puraan dan topeng gengsi. Amiiin.

Lalu apa yang perlu dilakukan friends? 
JUJUR dan KLARIFIKASI. Buang jauh-jauh gengsi kita. Jujur mengatakan apa adanya kondisi kita. Dan segera lakukan klarifikasi bila lingkungan mulai menempelkan anggapan yang tidak sesuai dengan kenyataan kita. Dengan ini malah kita bisa melihat mana teman-teman kita yang menghargai kita seutuhnya dan mana yang hanya menghargai kita dari benda-benda yang kita miliki.

Note ini tidak mengajak anda untuk tidak maju. Bukan mengajak untuk tidak membeli barang-barang mewah. Bukan itu pointnya. Ini soal mencermati niat. Misal kita ini mau beli mobil karena butuh atau karena biar dibilang kaya? Bila memang butuh dan cashflow keuangannya bisa dialokasikan ya membeli enggak apa-apa. Tapi jika cashflow finansial kita masih belum memadai lalu kita paksakan membeli demi dinilai orang, ah itu pertanda awal kita masuk dalam lingkaran setan gengsi. Dalam hal ini saya justru belajar dari beberapa teman saya. Salah satunya pernah saya jadikan status. Dia sangat kaya, punya mobil 15 buah, usia kurang lebih sama dengan saya. Pakaiannya kadang kucel. Saat awal kenal saya tidak tahu dia orang kaya. Wah kaget sekali saya setelah mengetahui dia sangat kaya. Saya jadi malu. Karena dia saja yang kaya tidak sombong dan tidak gengsi. Ingat yang sering terjadi, saya lihat dan saya alami, demi gengsi seseorang tidak segan untuk berbohong menjaga “kehormatan” diri.

Oleh karenanya mari kita lepas topeng gengsi kita. Dalam kenyataannya hidup itu “sawang sinawang” alias “rumput halaman tetangga selalu terlihat lebih hijau”. Jika selalu melihat "ke atas" kita akan terjebak pada lingkaran topeng kepura-puraan yang bisa jadi tiada bertepi. Tamat.


Salam Tanpa Topeng
ARIF RH -- The Happiness Consultant

KEMELEKATAN ; WASPADALAH, WASPADALAH! oleh Arif Rh


Apa sih kemelekatan itu? Baik, saya tidak panjang lebar main di definisi. Saya berikan sebuah ilustrasi saja. JANGAN DILAKUKAN, CUKUP DIBAYANGKAN SAJA!. Begini, misal anda ambil dua lembar kain masing-masing ukuran 2 cm x 3 cm. Tempelkan kain yang satu dengan LEM KERTAS BIASA di betis kanan anda. Biarkan mengering di situ. Kemudian, tempelkan juga kain yang kedua di betis kiri anda dengan LEM SUPER KUAT. Biarkan mengering di situ. Setelah beberapa saat kemudian anda lepaskan kain yang direkatkan dengan menggunakan LEM KERTAS BIASA. Kira-kira bagaimana RASANYA? Lalu setelah itu coba lepaskan kain yang anda rekatkan dengan LEM SUPER KUAT. Kira-kira bagaimana RASANYA? Saya yakin melepaskan kain yang direkatkan dengan lem super kuat akan MENYAKITKAN dan MENYENGSARAKAN. Ingat sekali lagi, ilustrasi itu bukan untuk dilakukan. Cukup dibayangkan saja!

Kemelekatan adalah kita “MENEMPELKAN” SESUATU KEPADA DIRI KITA atau sebaliknya. Nah derajat kemelekatan itu tentunya berbeda-beda. Ada yang menempelnya dengan lemah, sedang bahkan ada yang sangat kuat sekali. Lalu apa hubungannya dengan persoalan kehidupan? Dalam kehidupan kita menempelkan banyak hal kepada diri kita baik di sadari ataupun tidak disadari. Nah repotnya jika kita tanpa sadar menempelkan sesuatu yang sangat kuat kepada diri kita. Akibatnya apa? PENDERITAAN HIDUP. Semakin melekat, semakin menderita!

Saya mencontohkan diri saya sendiri. Saya dulu (sekitar tahun 2003) sangat mencintai seorang wanita. Dan dia saya “tempelkan” kuat sekali dalam batin saya. Saya mengalami kemelekatan yang sangat akut dengan dia. Hingga suatu waktu keseriusan saya untuk bisa menikah dengannya tidak tercapai. Malah dia menikah dengan orang lain tanpa sepengetahuan saya. Dan saya shock berat. Ibarat kain yang direkatkan sangat kuat ke betis saya lalu dilepas dengan cara yang tidak enak sehingga kulit saya megelupas dan berdarah-darah. Apalagi saat itu saya sedang banyak problem kehidupan baik finansial, hubungan dengan keluarga, perkuliahan dan sebagainya. Dan saya HAMPIR saja mengakhiri hidup saya. Bersyukur saya masih diijinkan hidup hingga saat ini.

Ciri bila kita mengalami kemelekatan adalah ketika kita merasa sesuatu itu sudah menjadi bagian diri kita. Sehingga apabila kehilangan sesuatu itu serasa kehillangan bagian tubuh kita. Kita juga secara tidak sadar MENUHANKANnya. Ingin agar sesuatu itu terus ada, tidak pernah rusak dan kita miliki selamanya. Nah sekarang mari kita evaluasi, apa saja yang sudah kita perlakukan seperti itu? Coba beri skala 0-10 untuk mengukur sejauh mana anda mengalami kemelekatan dengannya. Nilai 0 adalah sama sekali tidak melekat dan nilai 10 adalah sangat melekat sekali. Semakin banyak hal-hal yang anda lekatkan ke diri anda maka semakin banyak hal yang bisa membuat anda menderita suatu saat. Mengapa?

Karena sesuatu selain TUHAN YANG MAHA ABADI, pasti akan musnah. Suami, istri, uang, rumah, mobil, sepeda motor semuanya tidak abadi. Anda pun juga tidak abadi dan akan sirna meskipun uang, mobil, rumah, istri, suami dan sebagainya masih ada. Siapapun yang berharap kepada sesuatu yang tidak abadi bersiaplah kecewa. Saya sangat prihatin dengan beberapa lagu bertema cinta yang secara tidak langsung mengajarkan kemelekatan terhadap makhluk. Syairnya kurang lebih begini : “Kaulah darahkuuu, kaulah nadikuuuuu, kaulah jantungkuuu, kaulah napasskuuuuu … kaulah hidupkuuuuuu, juga matikuuuuu”. Padahal subyek yang dimaksud bukan Tuhan yang MAHA ABADI. Anda sudah bisa tebak apa yang akan terjadi jika sang kekasih pergi? Sudah pasti akan sangat menderita karena ia sudah sangat melekat dengan kekasihnya itu. Ya, bisa jadi akan bunuh diri kayak saya itu. Dan bukankah anda pernah mendengar atau melihat informasi dari media tentang kasus bunuh diri gara-gara patah hati? Itu adalah fenomena kemelekatan.

Mari kita belajar dari tukang parkir yang menyadari bahwa segala sesuatu itu hanya TITIPAN SEMENTARA. Tukang parkir itu banyak kendaraan tapi tidak sombong dan ketika diambil satu-satu kendaraannya dia  tidak merasa kehilangan. Mengapa? KARENA HANYA YANG MERASA MEMILIKI LAH YANG AKAN MERASA KEHILANGAN. Sadari bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya inventaris dari TUHAN YANG MAHA MEMILIKI. Kita sesungguhnya bukan pemilik sebenarnya, kita hanya MERASA MEMILIKI. Bukankah tubuh kita pun hanya titipan? Mari kita renungkan friends

Wah, berarti gak boleh melekat ya? Boleh, hanya saja melekatlah sewajarnya. Kemelekatan berlebihan sama saja kita MENUHANKAN. Melekatlah kepada DIA YANG MAHA ABADI, TEMPAT BERGANTUNG SEGALA MAKHLUK.


Salam Eling lan Waspodo
ARIF RH – The Happiness Consultant 

THE WISDOM OF "MASALAH"


Seringkali kita dengar, bahwa hidup itu ya masalah. Gak mau ketemu masalah, ya mati aja. Masalah lah yang mendewasakan dan membentuk jiwa kita. Namun dalam kenyataannya masih saja kita sering mengeluh, ketika bertemu dengan masalah. Nah, saat ini ijinkan saya bertanya kepada anda dan juga kepada diri saya sendiri :
  • Pernahkah kita mengeluh ketika ban kendaraan kita bocor?
  • Pernahkah kita mengeluh ketika kehujanan?
  • Pernahkah kita mengeluh ketika sandal kita rusak atau hilang?
  • Pernahkah kita mengeluh ketika vas bunga kita dipecahkan oleh anak atau saudara kita?
  • Pernahkah kita mengeluh ketika pakaian kita bolong karena setrikaan yang terlalu panas?
  • Pernahkah kita mengeluh ketika cuaca sangat panas?
Sekarang, mari kita renungkan sejenak …
  • Jika ban kendaraan kita tidak bocor, bagaimana para penambal ban bisa menghidupi dirinya dan keluarganya, bukankah karena kejadian itu kita jadi menambal ban?
  • Jika cuaca tidak hujan, bagaimana nasib para penjual payung, bukankah karena kejadian itu kita membeli payung?
  • Jika sandal kita tidak rusak atau hilang bagaimana para penjual sandal bisa makan, bukankah karena kejadian itu kita membeli sandal?
  • Jika vas bunga kita tidak pecah, bagaimana para pengrajin vas bunga menjalankan usahanya, bukankah karena kejadian itu kita membeli vas bunga?
  • Jika pakaian kita tidak bolong, darimana para penjual baju agar bisa menyekolahkan anak-anak mereka, bukankah karena kejadian itu kita membeli baju?
  • Jika cuaca tidak panas, bagaimana nasib para penjual es, bukankah karena kejadian itu kita merasa gerah dan haus lalu membeli es?
So, mari kita sadari bersama bahwa … DI BALIK APAPUN MASALAH KITA … DI BALIK APAPUN YANG KITA KELUHKAN … DI SITU LAH TERLETAK JALAN REJEKI … DAN PENGHIDUPAN ORANG LAIN ….


Salam Bahagia
oleh Arif Rh 
ARIF RH – The Happiness Consultant

Seindah Impian


By: M. Agus Syafii

Cerita itu berawal dari seorang ibu yang menerima telpon dari seorang perempuan dengan mengatakan bahwa dirinya tidak lagi berhak atas suaminya. Setelah merebut suaminya bahkan menteror dan menghancurkan hatinya. Kehancuran hatinya justru bertekad untuk mempertahankan rumah tangga, suami dan anak-anaknya. Sebagai seorang ibu dan istri seolah mendapatkan kekuatan yang begitu besar untuk tetap menjaga dan merawat anak-anaknya. Meski hatinya pilu dan tercabik-cabik, ia tak ingin orang tuanya tahu apa yang sedang terjadi di dalam rumah tangganya. Ditengah kesibukan mencari nafkah dengan bekerja keras demi keberlangsungan hidup, ditengah kesendirian dan perjuangan membesar anak-anaknya tidak membuat dirinya menjauh dari Allah malah semakin mendekat diri kepada Allah memohon agar mendapatkan kekuatan, kesabaran dan pertolonganNya.

Keyakinan akan kekuatan doa itulah yang menyebabkan dirinya berkenan untuk hadir ke Rumah Amalia. Tekadnya untuk mempertahankan rumah tangga, suami dan anak-anaknya merupakan impian indah yang sangat menjadi harapan, dengan sedikit menyisihkan rizkinya untuk bershodaqoh berharap untuk mengharap keridhaan Allah agar menjaga keutuhan rumah tangganya. Perih luka dan pilu dihatinya tidak lagi bisa ditutupinya. Air matanya yang bening mengalir. Anak-anaknya berlarian tak mengerti kegalauan hatinya. Hatinya telah berserah sepenuhnya kepada Allah, apapun yang telah menjadi ketetapan Allah, dirinya menerima dengan penuh syukur. 'Apapun yang Allah telah tetapkan pada kami, ujian, cobaan adalah wujud kasih sayang Allah kepada kami.' tutur beliau. 'Saya bersyukur dengan ujian dan cobaan ini membuat saya dan anak-anak semakin mendekatkan diri kepada Allah.' lanjutnya.

Sampai pada suatu hari, ditengah kesibukannya menyelesaikan tugas kantornya tiba-tiba ada satu peristiwa yang tidak pernah diduganya sama sekali, dering hapenya berbunyi. Terdengar suara yang membuatnya terkejut tak percaya. 'Mah, maafin aku ya..aku khilaf, sudah menyakiti hatimu.' Langsung saja mematikan hapenya.  Bagai tersambar petir disiang bolong, hati dan pikirannya kacau, suara itu adalah suara suaminya yang sudah setahun telah meninggalkan dirinya dan anak-anaknya. Beberapa menit kemudian hapenya berdering kembali, mengenali betul bahwa itu adalah nomor yang sama, sampai dering bunyi hapenya mati dengan sendirinya. Air matanya mengalir. Hatinya dikuatkan ketika hapenya berbunyi kembali, dengan bercampur baur semua perasaan ditumpahkan. 'Sebenarnya ayah mau apa? Setahun sudah ayah terlantarkan istri dan anak-anakmu? Minta maafmu tidak bisa menghilangkan rasa perih dihatiku dan derita anak-anakmu? Kamu kejam Mas, Kejam!' Suara itu terdengar penuh dengan isak dan tangis. Terdengar suara parau laki-laki menjawab. 'Mama, aku memang salah. aku bertaubat mah. Aku menyesal. Beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahan menjadi ayah dan suami yang baik.' Dihatinya perih terluka, tidak ada sedikitpun tersimpan kebencian pada laki-laki yang telah menjadi suami dan ayah bagi anak-anak sekalipun telah disakiti hatinya. Lama terdiam, akhirnya dia menjawab, 'Mas, pulanglah..aku dan anak-anak merindukanmu.'

Malam itu juga suaminya pulang ke rumah. melihat ayahnya yang berpeluh air mata. Ketiga anak-anaknya segera mendekat dan tanpa disuruh mereka berpelukan dengan ayahnya, menangis sejadi-jadinya. Ayahnya meminta kepada anak-anak dan istrinya agar memaafkan dirinya. Dirinya berjanji akan lebih menyayangi keluarga dan tidak akan pergi meninggalkan rumah lagi. Pernyataan sang ayah begitu sangat tulus disambut dengan ledakan tangis ketiga anak-anaknya dan isak tangis istrinya. Malam pun berlalu dengan rentetan permintaan maaf dan peluk cium, yang saling mengasihi dan penuh kasih sayang. Begitu indahnya. Seindah impian mereka tentang keluarga bahagia.

'Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya bisa dihilangkan dengan puasa, sholat, sedekah dan amar ma'ruf nahi mungkar.' (HR. Bukhari & Muslim).

Wassalam,
M. Agus Syafii

--
Yuk, raih keberkahan ramadhan hadir pada kegiatan 'Berkah Ramadhan Bersama Amalia' (BELIA) jam 4 s.d 6 sore, Ahad, 14 Agustus 2011. Bila berkenan berpartisipasi buku2, pakaian, peralatan sekolah, peralatan sholat, konsumsi berbuka. Kirimkan ke Rumah Amalia. Jl. Subagyo IV blok ii, no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda sangat berarti bagi kami. Info: agussyafii@yahoo.com atau SMS 087 8777 12 431