SMILE...^_^

Senin, 23 Mei 2011

DIALOG NABI MUHAMMAD SAW dan IBLIS LAKNATULLAH ALAIH…



(Hadist dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”
Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata: “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”.
Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin…”
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
“Siapa yang memaksamu?”
Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata:
“Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.”
“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

>>Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?”
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“lalu siapa lagi?”
“Orang Aliim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain.”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang -orang yang sabar.”
” Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur.”
“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

>>Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca al-Quran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah diatas api.”
“Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“Taubat orang yang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar di waktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“Sedekah yang diam – diam.”
“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjamaah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”
>>Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya : “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba.”
“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa tamumu?”
“Pencuri.”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat jumaat”
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”

>>Iblis Tidak Berdaya Di hadapan Orang Yang Ikhlas
Rasulullah SAW lalu bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”
Iblis segera menimpali:
“Tidak,tidak. . tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”
“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. “
“Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. “
“Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

>>Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-Anaknya
“Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan.
Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak – anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk menggangu wanta – wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.”
Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya.
“Mereka, anak – anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”

>>Cara Iblis Menggoda
“Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar – benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku.
Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba) kesenanganku.
Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata – kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. jadi semua anak – anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, CERAI.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, iapun menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ’shalatmu tidak sah’
Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalamdirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia.
Dan iapun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, ‘kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.’
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”

>>10 Hal Permintaan Iblis kepada Allah SWT
“Berapa hal yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam”
“Apa saja?”
“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan.”
Allah berfirman,
“Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
“Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.
Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.
Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.
Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.
Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.
Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.”
Allah berfirman,
“Orang -orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27).
“Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku.
Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.
Allah menjawab, “silahkan”, dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.
Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”
Iblis berkata : “Wahai muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.
Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…!!!
Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.
Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat :
“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119)
juga membaca,
“Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab : 38)
Iblis lalu berkata:
“Wahai Muhammad Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. dan aku tak berbohong.”
(dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas)


‎** Kebaikan dan Ketidakbaikan **


Apakah kebaikan akan selalu mendapatkan balasan kebaikan? Ya, pada akhirnya! Tetapi sebelum mencapainya, pasti ada ketidakbaikan yang mengiringi.

*
Apakah jalan kebaikan yang ditempuh akan selalu lancar dan tanpa hambatan dan tentangan?

Dimanapun, hidup tak selalu putih bersih. Sebab sang hitam akan mengiringi.

Tetapi bagi mereka yang bijak, hitam atau ketidakbaikan bukanlah untuk dijauhi dan lantas dijadikan musuh jahanam. Tetapi dipandang juga sebagai kebaikan.

Bila tidak ada ketidakbaikan bagaimana ada yang namanya kebaikan?
Jangan menolak ketidakbaikan dan tidak perlu berbangga dalam kebaikan.
Bila kecerahan hati telah dicapai, maka akan adil memandang dan menghadapi fenomena kehidupan ini.

Aku merenungkan dan mengambil pelajaran atas peristiwa yang terjadi.
Ketika seorang murid baru yang masih temperamental berselisih dengan dua murid lain yang terganggu dengan sikapnya.

Bukannya menyalahkan murid baru yang pengganggu dengan sikapnya, Sang Guru justru menasehati kedua muridnya yang lebih lama.

“Sahabatku, ketika engkau merasa terganggu dengan sikap ketidakbaikan orang lain, sesungguhnya dirimu masih menyimpan ketidakbaikan itu. Lalu mengapa engkau harus menyalahkan ketidakbaikan itu?

Bukan ketidakbaikan orang lain yang mengganggumu, tetapi ketidakbaikan dirimulah yang mengganggumu sendiri. Engkau yang lebih dulu belajar dan sedikit mengerti, seharusnya bisa memahami.”

Awalnya kedua murid merasa Sang Guru tidak adil, tetapi kemudian dapat menerima dan menyadari kesalahan mereka bersikap kepada murid baru tersebut.

Kepada murid barunya Sang Guru berpesan,”Sahabatku, tidak perlu kecewa dengan ketidakbaikan yang ada dan orang lain tidak memahami, karena engkau ada kebaikan juga padamu. Belajarlah dari ketidakbaikan itu, agar engkau ingat akan kebaikan yang ada pada dirimu!”

Dalam perjalanan hidup yang penuh kebaikan, Sang Guru sendiri mengalami ketidakbaikan. Niat tulus dan baik yang dikembangkan, tak jarang pula dipahami oleh ketidakbaikan disekitarnya.

Ada saja yang tidak menerima keberadaan Sang Guru dan menyebarkan berita bohong tentang padepokannya sebagai tempat mengajarkan kesesatan.

Bahkan pernah terjadi, padepokannya hendak dibakar sekelompok orang yang iri hati dan ancaman hendak dibunuhpun tidak dapat dihindari.

Sang Guru tetap tegak berdiri dalam keyakinannya untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran nurani kepada siapapun tanpa sekat yang membelenggu keegoan.

Memang kebaikan dan kebenaran tak lepas untuk disalahpahami dan dianggap sesat oleh orang-orang yang masih diliputi kesesatan. Niat baik saja belum tentu akan disikapi dengan baik oleh mereka yang tidak memiliki niat baik. Sang Guru menghadapi semua penghinaan dan kesalahanpahaman dengan kejernihan pikiran dan kebersihan hatinya.

Dengan senyuman dan kasih Sang Guru meredakan emosi dan kekerasan hati orang-orang yang bersikap tidak baik dan menentangnya.
Sang Guru tidak pernah menyalahkan atas sikap mereka. Hanya menyalahkan dirinya yang menimbulkan semua ini.

Atas semua ini, Sang Guru berkata kepadaku,”Setiap manusia pasti memiliki kebaikan dan kelembutan hati, ketika dapat menyentuhnya, maka akan timbul kesadaran pada dirinya!”

Sang Guru tidak membedakan manusia antara baik dan tidak baik. Tetapi ia menyadarkan dirinya untuk memandang setiap manusia sebagai kekasihnya.

Sang Guru tidak bersikap terhadap apa yang ia terima. Karena itu, baik kebaikan maupun ketidakbaikan akan tetap dibalas dengan keluhuran budinya.
Ia tidak terikat oleh yang bernama pamrih.

“Sahabatku, membalas kebaikan dengan kebaikan, siapapun dapat melakukannya. Itu yang biasa terjadi. Tetapi bila bisa membalas ketidakbaikan dengan kebaikan, maka itu akan menunjukkan karakter dirimu!”
Kembali Sang Guru memberikan pesan kepadaku yang membuat aku intropeksi diri akan sikap hatiku selama ini.

Aku baru menjadi manusia awam yang baru hanya bisa membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas ketidakbaikan dengan ketidakbaikan.

“Malu ah!” Bisik hati kecilku.

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/01/10/kebaikan-dan-ketidakbaikan-50k-aku-dan-sang-guru/
copas dr fb nya mba Rien Marini
* Jika dirasa bermanfaat dipersilahkan utk tag, copas atau share langsung...Jazakumullah khairan katsiro Wa barakallahu fiikum....^_^

Minggu, 15 Mei 2011

Bersyukurlah...

bersyukurlah teman...
krn qt lebih beruntung dr mereka.




Dan jika kamu menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya (karena banyaknya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyayang.

Qur'an: Surat An Nahl: 18 ~

Rabu, 11 Mei 2011

Kiat Menumbuhkan Mental Baja


Menurut Jim Collins (Penulis, Guru Besar dari Stanford Univ.), ada 3 macam orang terkait dengan cara mereka menghadapi cobaan hidup, yaitu:
  • Kelompok pertama, adalah mereka-mereka yang mengalami goncangan [hidup], tetapi kemudian mampu kembali ke lintasannya semula.
  • Kelompok kedua, adalah mereka-mereka yang terjerembab, jatuh dan tak pernah mampu bangkit lagi.
  • Kelompok ketiga, adalah mereka-mereka yang justru menggunakan kesengsaraan sebagai pecut untuk menempa mental lebih kuat lagi—setiap kali mengalami cobaan hidup, mungkin mereka terjatuh sesaat untuk kemudian bangkit dengan tenaga yang berlipat-lipat. Mereka berubah menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Mereka yang ada di kelompok ketiga ini memeliki kelenturan emosi. Cobaan hidup mungkin membuat mental mereka meregang hingga ke titik elastisitas maksimum—seperti dua kelompok sebelumnya—tetapi mereka tidak sampai kehilangan daya pegas sekaligus keseimbangan untuk kembali. Semakin jauh ditarik, semakin kuat daya lentingnya. Mereka tidak pernah membiarkan papan surfing lepas dari tangan.
Ada banyak orang di sekitar saya [pastinya di sekitar anda juga] yang masuk dalam kelompok ini. Jika sering menonton televisi, pasti bisa menemukan mereka dengan mudah. Sosok pribadi yang saya suka menyebutnya sebagai orang-rang yang bermental baja. Orang-orang pemberani yang mampu mengarungi naik-turunnya ombak kehidupan tanpa mengenal kata menyerah—yang mereka tahu hanya bertahan dan bangkit.
Tentu ada diantara mereka yang memang dilahirkan memiliki mental baja—bawaan sejak lahir. Tetapi sebagian besar dari mereka, menjadi pribadi yang kuat karena tempaan pengalaman hidup. Menurut saya mereka memiliki karakteristik dan perilaku yang sangat khas.
Mungkin saya dan anda bisa mencontoh sikap dan perilaku mereka:
1. Hanya Membina hubungan yang jelas – Dalam membina hubungan [apapun bentuknya]—pasangan hidup, partner bisnis, dll—mereka selalu menggunakan perspektif yang jelas. Mengikat diri hanya untuk komitmen yang jelas. Mereka tidak menyukai hubungan abu-abu yang tidak menentu. Sebagai salah satu kunci kejelasan hubungan itu adalah dokumen tertulis yang legal—hak dan kewajiban diatur dengan begitu gamblang dan jelas. Mereka tidak mengharapkan konflik tanpa solusi pasti. Mereka adalah orang-orang yang berpikir efisien dan efektif. Dalam hubungan pribadi, mereka selalu mencari cara untuk menguatkan sekaligus menumbuhkan hubungan mereka ke arah yang lebih positif. Setiap kali melihat pasangannya lemah, mereka selalu bertanya: Apakah aku telah menyakitimu? Apa yang kamu butuhkan dari aku sekarang? Adakah kelebihan yang aku miliki yang bisa aku pergunakan untuk mendukungmu?
2. Tanamkan sikap ikhlas—bisa menerima kenyataan – Salah satu hal menonjol dari pribadi yang bermental baja adalah kemampuannya untuk mengikhlaskan sesuatu atau seseorang pergi. Tahu apa yang dibutuhkan agar bisa melepaskan sesuatu atau seseorang yang memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi—apakah pekerjaan yang tidak cocok, atau proyek yang tidak menguntungkan, atau partner bisnis yang selama ini lebih banyak merugikan dibandingkan menguntungkan. Mereka tahu persis bahwa berkutat pada sesuatu atau seseorang yang hanya menimbulkan kesia-siaan adalah sumber pemicu kemarahan dan bentuk emosi lainnya, sekaligus sumber kebocoran energi. Lain daripada itu mereka juga tahu bahwa hal itu hanya akan menutup peluang bagi potensi lain yang mungkin justru lebih baik—lebih layak untuk diperjuangkan, lebih layak untuk dibela, lebih layak untuk diusahakan.
3. Biasakan berfokus pada hal terpenting saja – Agak mirip dengan yang kedua di atas. Hanya saja di sini yang lebih ditekankan adalah sikap mental yang tidak terusik oleh hal-hal yang tidak penting. Ukuran penting tentunya berbeda-beda untuk setiap orang. Bagi saya pribadi yang saya anggap penting adalah hal-hal yang bisa mempengaruhi hidup dan masa depan saya [serta keluarga saja]. Fokus dalam hal ini bukan saja dalam hal penggunaan materi semata, melainkan juga waktu, pikiran termasuk perasaan. Alexander Graham Bellpernah mengatakan, “Concentrate all your thoughts upon the work at hand. The sun’s rays do not burn until brought to a focus.”
4. Terima kesalahan dengan ketegaran sekaligus ketenangan hati - Menjaga pikiran agar bisa tetap tenang dan fokus meskipun sedang berada dibawah tekanan [hidup], bisa dilatih. Bayangkan para atlit top dunia—mereka tidak selalu menang, tidak selalu pulang membawa piala. Ada kalanya mereka kalah. Ada kalanya mereka pulang dengan tangan kosong. Tetapi mereka masih terus berkarir, ikut berlomba lagi di kejuaraan berikutnya. Salah satu ucapan bintang bola basket Michael Jordan yang saya sukai adalah, “I’ve failed over and over and over again in my life and that is why I succeed.” Ungkapan ini jelas menunjukan betapa kuatnya mental Michael Jordan. Dia memang tergolong orang yang bermental baja. Salah satu cara untuk mencapai tingkatan mental ini adalah dengan membiasakan diri untuk melihat kesalahan dan kegagalan sebagai syarat mutlak untuk berhasil—tidak bisa ditawar-tawar.
5. Lihat kegagalan sebagai aset – Bagimana mungkin kegagalan adalah aset? Logikanya, setiap orang bisa belajar dengan menggunakan salah satu dari 2 cara berikut ini, atau keduanya:
  • Belajar dari keberhasilan—hal (konsep/metode/cara/pendekatan) yang bekerja dengan baik dan mendukung keberhasilan tinggal diulangi saja (repeat) untuk mencetak keberhasilan demi keberhasilan lagi; atau
  • Dari kegagalan— hal (konsep/metode/cara/pendekatan) yang tidak bisa bekerja atau gagal ya jangan dipakai lagi, dengan mengetahui apa yang tidak bisa/boleh, mestinya dengan sendirinya apa yang bisa/boleh dilakukan, bisa terlihat.
Di dunia kerjapun, pengalaman adalah prasyarat utama—bahkan mengalahkan jenjang pendidikan. Seseorang yang pernah berkecimpung dibidang tertentu dalam waktu lama (berpengalaman) biasanya jauh lebih dihargai dibandingkan para sarjana, master, bahkan doktor sekalipun. Dalam sebuah perjalanan pengalaman panjang tentunya termasuk juga kegagalan-kegagalan. Sehingga kegagalan juga termasuk aset.
6. Bedakan antara kritik yang membangun dengan yang menjatuhkan – Idealnya, berfokus lah pada kritik yang membangun saja. Kritik yang menjatuhkan hanya menghabiskan tempat di memory otak kita. Buang jauh-jauh. Jikapun mau diambil, pastikan jenis kritik negative itu bisa membangkitkan energi yang lebih besar untuk mendorong ke depan—bukan ke belakang atau kesamping.
Mungkin ada lebih banyak cara lagi yang bisa dilakukan untuk menanamkan sekaligus menumbuhkan mental kuat, tahan banting, selalu bangkit dengan tenaga yang lebih besar setiap kali mengalami cobaan hidup—hambatan atau kegagalan. Yang jelas, memiliki mental baja adalah keistimewaan tersendiri, menurut saya bagus untuk ditumbuhkan.


Kiat Mengatakan Tidak (Langkah Awal Untuk Menjadi Jujur)


Mengatakan ‘tidak’ terdengar sangat sederhana, bukan? Faktanya, banyak orang yang lebih mudah mengatakan ‘iya’ dibandingkan ‘tidak’, bahkan pada saat ragu-ragu atau tidak mengerti sekalipun.
Ada juga orang yang tahu persis dirinya harus mengatakan ‘tidak’, tetapi untuk situasi tertentu, berbicara dengan orang tertentu, kata ‘tidak’ menjadi berat untuk diucapkan—pada atasan (orang yang dihormati), pelanggan, sahabat atau orang yang pernah menaruh ‘budi baik’.
Semua orang pernah berada di situasi ini, termasuk saya. Ada rasa tidak nyaman saat harus mengatakan ‘tidak’—menolak mentah-mentah. Menolak mentah-mentah kesannya kasar. Menolak mentah-mentah bisa juga menimbulkan kesan tidak mau bekerja sama. Lebih parahnya, penolakan dengan kata ‘tidak’ bisa diartikan sebagai pelecehan atau meremehkan, misalnya: salah satu rekan kerja mengajukan usul, atau teman mengajak untuk jalan-jalan sehabis jam kerja, atau teman menawari traktiran. Alasan-alasan inilah yang membuat seseorang berat untuk mengatakan tidak.
Kalau tidak bisa mengatakan ‘tidak’, kenapa tidak katakan ‘iya’ saja? Setiap kali kita mengatakan ‘iya’ untuk sesuatu yang hati kita sesungguhnya bilang ‘tidak’, berarti kita mengucapkan kepalsuan, tidak sungguh, tidak jujur, tidak tulus. Dan itu merusak mental pada jangka panjang.
Lalu, harus bagaimana? Berikut ini adalah kiat untuk mengatakan ‘tidak’ tanpa perlu khawatir akan risiko apapun di belakang, termasuk risiko kehilangan teman:

1. Mengatakan ‘Tidak’ Dengan 3 Kalimat

Kalimat-1. Konfirmasikan anda telah menerima pesannya – Ini penting untuk menghindari kesan bahwa anda menyepelekan permintaan seseorang. Misalnya: “Ide yang bagus”, atau “Saya mengerti maksud anda”.
Kalimat-2. Jelaskan situasi anda – Jelaskan dengan ringkas mengenai situasi apa yang sedang anda hadapi saat ini yang membuat anda tidak bisa memenuhi permintaannya. MisalnyaL “Saat ini saya sedang mengejar deadline”, atau “Sudah menjadi kebijakan perusahaan kami bahwa….”.
Phrase-3. Ubah penolakan anda mejadi nada positif – Tawarkan alternative atau kalimat yang menunjukan bahwa hubungan kalian baik-baik saja. Misalnya: “Mungkin lain kali saya bisa”, atau “Mudah-mudahan yang lain bisa Bantu”.
Selanjutnya tinggal mengkombinasikan ketiga jenis kalimat di atas, sehingga menjadi:
“Ide yang bagus [konfirmasi pesan telah diterima]. Sayang sekali saat ini saya sedang mengejar deadline [menjelaskan siatuasi anda saat ini]. Mungkin lain kali saya bisa [mengubah nada penolakan menjadi postif]”.
Tips: Hindari menggunakan kalimat panjang lebar atau bertele-tele. Semakin panjang lebar penjelasan anda, semakin kecil kemungkinan lawan bicara bisa menghargai sikap anda.

2. Mengatakan ‘Tidak’ Dengan 2 Kalimat

Cara menolak dengan menggunakan 3 kalimat di atas adalah cara yang paling halus. Cocok untuk lawan bicara yang halus juga—orang yang sensitive dan bisa dengan mudah memahami penolakan anda. Namun ada kalanya kita bertemu sesorang yang agak bandel atau ‘ngeyel’ istilah jawanya. Type orang yang selalu mencoba memanipulasi setiap ucapan kita, membalikan omongan.
Untuk orang seperti ini, mungkin anda bisa menggunakan hanya 2 kalimat, sehingga kesan tegas semakin jelas untuk mencegah mereka memanipulasi ucapan anda atau membalikan omongan. Misalnya:
“Menarik + Tapi saya sudah ada janji lain.”
“Sebenarnya saya tidak keberatan + Tetapi saya sangat sibuk saat ini”.
“Saya mengerti ini penting + Mungkin lain kali”

3. Mengatakan ‘Tidak’ Dengan Satu Kalimat

Perlu diingat, bahwa menolak dengan cara baik artinya menolak dengan cara seperlunya saja—tanpa dilebihkan atau dikurangkan. Hal itu perlu untuk tetap menjaga kesan bahwa anda menolak bukan karena anda tidak menyukai mereka. Melainkan semata-mata karena anda tidak bisa menerimanya. Hal ini bisa tercipta hanya jika pikiran kita bebas dari prasangka negatif.
Tetapi, ada kalanya orang yang kita hadapi adalah orang yang sangat pintar memanfaatkan setiap kemungkinan yang bisa dimanfaatkan. Sebagai ilustrasi:
Rini dan Lusy adalah penjaga counter HP. “Rin. Sabtu besok tolong gantiin aku jaga ya”, pinta Lusy kepada Rini di hari Jumat. Tidak mau merusak persahabatan Rini mengiyakan permintaan Lusy.
Jumat depannya, lagi-lagi Lusy minta tolong Rini gantiin jaga. Kali ini Rini menolak permintaan Lusy dengan mengatakan, “Kelihatannya pacar kamu tidak suka kamu kerja akhir pekan ya. Suami aku juga tidak suka aku. Aku bisa bantu gantiin untuk situasi darurat saja”.
Sebenarnya penolakan Rini itu sudah tergolong tegas. Tetapi dasar Lusy orangnya memang banyak akal, akhirnya setiap akhir pekan Lusy selalu mencari-cari alasan seolah-olah dia dalam kondisi darurat—yang orang taunya datang lah, atau pacarnya sakit, bahkan kucing kesayangannyapun bisa sakit.
Lama-lama Rini mulai mencium akal bulus Lusy. Kali ini Rini hanya menggunakan satu kalimat, “Maaf tidak bisa” dan menolak alasan apapun. Dalam hal ini, Rini sudah mencoba untuk bersikap baik sejak awal tetapi Lusy terus saja memanfaatkan kebaikannya. Sehingga sangat wajar kalau akhirnya Rini menolak dengan mentah-mentah permintaan Lusy.
Sikap sulit mengatakan tidak sesungguhnya bersumber jauh di dalam pikiran kita. Sulit mengatakan ‘tidak’ kepada orang lain berasal dari kesulitan kita mengatakan ‘tidak’ pada diri sendiri. Agar selalu berhasil mengatakan ‘tidak’—kapanpun, dimanapun—kepada orang lain, belajarlah mengatakan ‘tidak’ pada diri sendiris setiap kali anda berpikir: “jika aku mengatakan tidak mereka akan membenciku”.
Mereka yang mampu mengatakan tidak dengan nyaman dan baik, adalah orang-orang yang tahu persis apa yang penting dalam hidupnya. Tahu persis apa yang harus dilakukannya. Terampil mengatakan tidak, bukan saja dapat membuat diri sendiri menjadi terbebas dari rasa tertekan. Sekaligus mampu mengontrol diri sendiri—hanya mengatakan apa yang ingin dikatakan, hanya melakukan apa yang ingin dilakukan. Dalam jangka panjang akan dapat membentuk kepribadian yang sungguh, jujur, dan tulus.